- Pengguna Baru? Daftar
- Sign In
- Bantuan
- Yahoo
Eddies Adelia menjadi tersangka dan kini ditahan di Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur sejak 18 September 2014 karena kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang dilakukan suami, Ferry Setiawan. Berstatus tersangka dan menjadi tahanan, Eddies dikabarkan jatuh miskin.
Hal itu diungkapkan salah seorang sahabat Eddies, pedangdut Ageng Kiwi. Menurut Ageng, Eddies sempat curhat kepadanya dan kini wanita 35 tahun itu kesulitan keuangan dan tak memiliki tabungan.
"Dari kemarin dia itu cerita ke aku, dia sudah nggak punya tabungan sama sekali. Dia bilang, 'kalau Mas Ageng nggak percaya ini lihat tabungan aku tinggal lima ratus ribu'," kata Ageng menirukan kalimat Eddies, saat dihubungi via telpon, Rabu (24/9/2014) malam.
Tidak hanya itu, Ageng juga membeberkan bahwa untuk makan sehari-hari, bintang sinetron Kiamat Sudah Dekat itu sampai menjual barang-barang berharga seperti tas.
"Sampai tas dia jual, buat makan sehari-hari, dia puterin. Sampai kemarin dia senang banget dapat job walau bayarannya cuma Rp2-Rp3 juta," ungkap Ageng Kiwi.
Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah menjebloskan 3 dosen Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dijebloskan ke tahanan.
Mereka ditahan sebagai upaya mempermudah penanganan kasus dugaan korupsi Pengadaan Peralatan Laboratorium Terpadu Pusat Riset dan Pengembangan Ilmu Pendidikan Unsoed Purwokerto tahun anggaran 2010.
Menurut Asintel Kejati Jateng, Yacob Hendrik, penahanan dilakukan agar persidangan lebih lancar.
"Ketiganya kami tahan untuk memperlancar proses persidangan," kata Asisten Intel (Asintel) Kejati Jateng, Yacob Hendrik, Selasa 23 September 2014.
Mereka yang dijebloskan ke penjara ini masing-masing Pembantu Rektor II Eko Hariyanto, Pembantu Dekan II Fakultas peternakan Anjar Taruna Ari Sudewo, dan staf pengajar bernama Bondansari.
Terhitung mulai Selasa malam, ketiga tersangka ditahan di Lapas Klas IA Kedungpane Semarang. Proyek pengadaan peralatan terpadu pusat riset tersebut senilai Rp 28,404 miliar. Diduga terjadi mark up dan pengaturan pemenang lelang dengan suap, sehingga merugikan keuangan negara Rp 10 miliar.
Nelayan tradisional Indonesia asal Papua, Luky Waroi, divonis hukuman 5 tahun penjara oleh Pengadilan Vanimo, Papua Nugini. Vonis itu dijatuhkan karena Luky dituduh mencuri ikan dengan menggunakan perahu bermesin tempel dan memiliki bom ikan atau dopis.
Konsul RI di Vanimo, Jahar Gultom, mengatakan, dua nelayan lain di atas kapal yakni Baren Waroi (17) dan Frangky Wanggai, juga ditangkap. Tapi keduanya kemudian dibebaskan karena tidak terbukti bersalah.
"Baren Waroi dan Franky Wanggai terungkap dalam vonis hakim hanya ikut-ikutan dalam aksi ini. Ketiganya saat itu tertangkap tangan oleh aparat keamanan Papua Nugini di perairan Wutung, Papua Nugini, saat melakukan illegal fishing dengan menggunakan boat dan dopis," demikian penjelasan Jahar Gultom dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Selasa (23/9/2014).
Selama proses persidangan, ketiganya didampingi pengacara yang disiapkan Konsul RI di Vanimo.
"Kami terus meminta keringanan hukuman bagi warga Papua ini dengan pertimbangan illegal fishing yang dilakukan Luky tidak dalam skala bisnis. Tapi hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi ketiganya baru pertama kali melakukan pemboman ikan," ungkap Jahar.
Baren Waroi lebih dulu diproses dan dititipkan di Konsulat sejak 8 September 2014. Sementara Franky Wanggai hanya dijatuhi denda dan sudah dibayar pihak keluarga.
Konsulat bersama pengacara berupaya agar Luky Waroi yang dijerat hukuman 5 tahun penjara dapat dibebaskan. Namun barang bukti berupa 6 buah bom ikan, cool box dan kapal ukuran 23 dengan mesin 40 PK menguatkan vonis hakim atas tuduhan yang disangkakan Luky.
"Kami terus berupaya untuk pengurangan hukuman Luky," jelas Jahar.
Kepala Badan Perbatasan dan Kerja Sama Luar Negeri Susi Wanggai mengatakan, nelayan Papua masih memiliki pemahaman minim tentang hukum perairan di wilayah perbatasan. Pada dasarnya, para nelayan sudah mengetahui bahwa melintasi perairan negara tetangga adalah pelanggaran, namun kadang nelayan menganggap remeh hukum di Papua Nugini.
"Laut dan ikan di Papua Nugini rata-rata masih bagus. Namun banyak nelayan Papua yang menangkap ikan dengan menggunakan bom ikan dan ini jelas pelanggaran," kata Susi.
Untuk mengatasi masalah ini, Susi menilai perlu kerja sama semua pihak guna mensosialisasikan hukum perairan kepada nelayan yang sering melintas di perairan dua negara. (Yus)